PERDAGANGAN ANTAR NEGARA

Standar

Berikut beberapa alasan mengapa suatu negara memerlukan negara lain dalam kehidupan ekonominya adalah ;

1. Tidak semua kebutuhan masyarakatnya dapat dipenuhi oleh komoditi yang dihasilkan di dalam negeri, sehingga untuk memenuhi kebutuhan tersebut, harus dilakukan impor dari negara yang memproduksinya. Sebagai contoh : meskipun negara Arab adalah negara yang kaya, namun tidak dapat menghasilkan karet untuk bahan baku ban mobil, sepatu atau sandal. Tentunya untuk memenuhi kebutuhan bahan baku karet tersebut harus membelinya dari negara-negara yang menghasilkannya (misalnya negara-negara yang ada di Asia).

2. Karena terbatasnya konsumen tidak semua hasil produksi dapat dipasarkan di dalam negeri, sehingga perlu di cari pasar diluar negeri. Untuk itulah suatu negara membutuhkan negara lain untuk perluasan pasar bagi produknya.

3. Sebagai sarana untuk melakukakn proses alih teknologi. Dengan membeli produk asing suatu negara dapat mempelajari bagaimana produk tersebut dibuat dan dipasarkan, sehingga dalam jangka panjang dapat melakukan produksi untuk barang yang sama.

4. Perdagangan antar negara sebagai salah satu cara membina persahabatan dan kepentingan-kepentingan politik lainnya.

5. Secara ekonomis dan matematis perdagangan antar negara dapat mendatangkan tambahan keuntungan dan efisiensi dari dilakukannya tindakan spesialisasi produksi dari negara-negara yang memiliki keuntungan mutlak dan atau keuntungan berbanding. Dan untuk memberi gambaran mengenai hal ini dapat digunakan contoh berikut :

CONTOH 1:

Dua negara , Indonesia dan Cina memiliki data produksi sebagai berikut :

INDONESIA CINA
Produksi beras 1000 ton/satu unit produksi Produksi beras 500 ton/satu unit produksi
Produksi Gandum 50 ton/satu unit produksi Produksi Gandum 200 ton/satu unit produksi

Dengan beberapa asumsi bahwa :

=> Perdagangan hanya dilakukan oleh 2 negara dan 2 komoditi yang sama.

=> Hasil produksi adalah per satu unit produksi.

=> Transaksi dilakukan secara barter.

#Maka bersediakah kedua negara tersebut melakukan perdagangan? Jika bersedia, berapakah kenaikan produksi dunia dari 2 komoditi tersebut ? dan Berapakah keuntungan yang diperoleh masing-masing negara ?

JAWAB :

Tabel 1

  Produksi Beras Produksi Gandum Harga relatif gandum = beras Harga relatif beras = gandum
INDONESIA 1000 ton 50 ton 1 gandum = 20 beras 1 beras = 0,05 gandum
CINA 500 ton 200 ton 1 gandum = 2,5 beras 1 beras = 0,4 gandum

 

Dari tabel 1 terlihat bahwa Indonesia ternyata tampaknya lebih produktif dalam menghasilkan beras, dan sebaliknya Cina lebih produktif dalam menghasilkan gandum. Untuk memastikannya kita cari harga relatif kedua produk tersebut di masing-masing negara. Dari perhitungan tampak, bahwa di Indonesia 1 ton gandum dihargai dengan 20 ton beras (1000/50), sedangkan di Cina 1 ton gandum hanya seharga 2,5 ton (500/200). Dengan demikian, untuk produk gandum ternyata lebih murah jika diproduksi di Cina. Sedangkan untuk produksi beras yang terjadi adalah sebaliknya. Dari perhitungan, harga relatif, Indonesia lebih efisien dalam memproduksi beras, hal ini dapat dilihat bahwa untuk 1 ton beras di Indonesia hanya seharga 0,05 ton (50/1000) gandum, jauh lebih murah 1 ton beras di Cina yang seharga 0,4 ton (200/500) gandum. Dengan keadaan tersebut dapat disimpulkan bahwa, Indonesia dapat memproduksi beras lebih efisien dan sebaliknya melakukan spesialisasi pada produksi beras. Begitu pula sebaliknya Cina dapat lebih efisien dalam memproduksi gandum dan sebaliknya melakukan spesialisasi pada produk tersebut. Dengan demikian dapat dilihat pada tabel berikut :

  Produksi beras Produksi gandum
Indonesia

2000

Cina

400

 

Dari tabel kedua tersebut terlihat bahwa produksi beras dunia telah meningkat, dari sebelum adanya spesialisasi hanya sebesar 1500 ton ( produksi Indonesia 1000 + produksi Cina 500) menjadi 2000 ton. Begitu pula denga produksi gandum dunia juga mengalami peningkatan dari 250 ton ( produksi Indonesia 50 ton + produksi Cina 200 ton ) menjadi 400 ton. Dengan demikian masyarakat dunia dapat lebih banyak menikmati produk beras dan gandum.

Namun , berapakah keuntungan yang dirasakan oleh negara Indonesia dan Cina ? untuk menjawab pertanyaan tersebut, perhatikan tabel proses perdagangan berikut ini :

  Produksi beras Produksi gandum
Indonesia 1000 100
Cina

1000

300

 

Sebelum masing-masing negara saling menukar kedua komoditi tersebut, akan dilakukan negosiasi mengenai nilai tukar dari kedua komoditi tersebut. Besarnya nilai tukar tersebut biasanya berkisar atau diantaranya nilai harga relatif kedua komoditi di masing-masing negara. Dengan demikian nilai tukar internasional 1ton gandum adalah diantara 2,5 ton – 20 ton beras, yakni +/- 1 ton gandum akan dihargai 10 ton beras ( bisa juga 9 , 11 , atau 12 ton beras ). Dengan demikian jika Indonesia mengimpor gandum dari Cina sebesar 100 ton, maka sebagai konsekuensi dari nilai tukar yang disepakati, maka Indonesia akan mengirim 1000 ton beras ( 100 ton gandum x 10 ) kepada Cina.

Jadi, tampak bahwa masing-masing negara telah mendapatkan keuntungan berupa bertambahnya komoditi yang tersedia di dalam negeri, dengan rincian :

=> Indonesia mendapatkan keuntungan dalam hal komoditi gandum senilai 50 ton, karena sebelum perdagangan hanya dapat menikmati 50 saja, sedangkan setelah perdagangan menjadi 100 ton gandum.

=> Cina mendapat keuntungan dalam komoditi beras senilai 500 ton, karena sebelumnya hanya bisa menghasilkan 500 ton , dan setelah perdagangan menikmati 1000 ton beras.

Sumber :

http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/perekonomian_indonesia/bab6-peran_sektor_luar_negeri_pada_perekonomian_indonesia.pdf

 

 

images (10)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s