BERINVESTASI ITU SEPERTI BERCOCOK TANAM

Standar

BERINVESTASI ITU SEPERTI BERCOCOK TANAM

Berasal dari keluarga sederhana. Agus Basuki Yanuar terbiasa merencanakan keuangannya sejak masih duduk di bangku SMA. Apalagi, lahir dan tumbuh di daerah pertanian juga membuatnya memahami filosofi investasi yang seperti bercocok tanam.

Kristiana Anissa

RISET:SARAH RATNA HERNI

Banyaknya keinginan dan terbatasnya sumber daya membuat pria yang kini menjadi Presdir Samuel Asset Management ini harus mampu menentukan prioritas. Namun, segala keterbatasan itu juga yang membuatnya jeli melihat peluang. Selama SMA di Bandung, ia telah bekerja, mengumpulkan uang untuk biaya kuliah. Memang, dikeluarganya hanya ia dan kakaknya yang ke-9 yang mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi. Saudaranya yang lain bersekolah sampai tingkat SMA saja.

Karena itu, setiap akan pulang ke Karawang, ia selalu mencari barang apa yang sedang hit di Bandung tetapi tidak ada di Karawang. Tak jarang ia membawa T-shirt dari Bandung untuk dijual di Karawang. Selain itu, terkadang ia membeli bahan kiloan yang dapat dijahit menjadi celana panjang pria lalu menjualnya di Karawang. Sementara, dari karawang, selain beras, produk yang dinilainya istimewa adalah ikan asin. “Yang paling mahal kan ikan asin gabus. Nah, saya bawa itu dan dijual di Bandung,” kata Agus mengenang. Hasilnya, begitu lulus SMA, tabungannya pun telah mencukupi untuk kuliah.

Ia pun memilih jurusan Akuntansi Universitas Padjadjaran bukan tanpa alasan. Saat itu, Agus yang sebenarnya juga menyukai desain dan memang pernah belajar membuat mebel dan menjahit dari balai latihan kerja ini melihat fakta bahwa kebutuhan akan sarjana akuntansi di Indonesia mencapai 8.000 orang per tahun. Padahal, jumlah lulusannya baru 3.000 orang. Dengan begitu, tentu peluang kerja bagi sarjana akuntansi sangat besar.

Benar saja, begitu lulus ia pun langsung bergabung dengan konsultan akuntansi kenamaan, Price Waterhouse Cooper, sebagai auditor. Di sinilah ia mulai mencicipi investasi saham bersama teman-teman sekantornya. Agus dan teman-temannya membeli saham pada saat penawaran perdana (initial public offering/IPO) dan langsung menjualnya kembali setelah beberapa hari saham tersebut melantai di bursa, dan mereka pun meraup keuntungan. “saat itu saya juga belum mengerti ilmunya, ikut-ikutan teman-teman saja beli IPO yang antre itu. Dulu kalau beli IPO, hampir selalu untung, tetapi juga tidak bisa beli banyak, tidak ada yang dapat 1 lot 500 lembar karena memang oversubscribed-nya banyak,” ujarnya.

Baru tahun 1998 ia benar-benar membeli saham untuk investasi jangka panjang. Saat itu Agus akan berhenti dari pekerjaannya sebagai di W.I.CarrSecurities untuk mengurus anak keduanya yang sakit cerebralpalsy. Padahal, posisinya saat itu adalah Associate Director W.I. Carr untuk wilayah Asia Tenggara. “saya gantian mengurus anak dengan istri saya. Dia kembali bekerja setelah 1,5 tahun unpaid leave di Unilever, saya yang di rumah jadi Mr.Mom,” kata ayah tiga anak ini sambil tertawa mengenang.

Saat itu pula, salah seorang teman Agus, orang Amerika yang ingin kembali ke negaranya, meminta Agus membeli kijang miliknya seharga 30 juta. “ karena sebenarnya saya tidak butuh mobil saat itu, saya bilang ke teman saya itu, mobilnya boleh ya saya jual lagi dan laku 60 juta,” ia berkisah. Uang itulah yang ia gunakan untuk membeli beberapa saham, yaitu saham Unilever Indonesia, Astra Internasional, Matahari Putra Prima, Gajah Tunggal dan Ramayana. Saham Unilever itulah yang ia persiapkan sebagai biaya kuliah anak pertamanya kelak, sedangkan saham lainnya ia trading-kan. Pengalaman hidupnya untuk mengejar pendidikan tinggi memang mengajarkan untuk mempersiapkan biaya pendidikan sejak jauh hari.

Akhirnya, setelah benar-benar berhenti bekerja, di awal 1999 Agus pun mulai mengelola dananya sendiri dari rumah. Ia memasang sistem real-time information (RTI) di rumahnya dan memantau pasar dari rumah sambil melakukan kewjibannya mengantar-jemput anaknya ke sekolah dan melakukan terapi bagi anak keduanya.

Lama-kelamaan banyak tetangga Agus yang tertarik bergabung. “ jadi, kami buat semacam klub investasi dan saya seperti mengelola dana mereka, tetapi pada dasarnya mereka juga yang menentukan ingin beli saham apa. Misalnya, saya mau beli saham apa mereka ikut. Ya, ada untung ada rugi juga, kami kan sama-sama belajar,” kata pria kelahiran Karawang, 9 Januari 1964, ini. Hal itu dilakukannya selama 1999-2001.

Bagi Agus, berinvestasi itu sama seperti bercocok tanam. “ Tidak ada yang ditanam hari ini besok langsung tumbuh. Tinggal pilih, kalau mau dapat hasil 3-4 bulan, ya tanam padi. Ada sih yang tiga hari saja sudah dapat hasil, tauge misalnya, tetapi ya harganya harga tauge. Kalau mau yang hasilnya besar, bisa tanam pohon jati, tetapi paling cepat delapan tahun baru bisa panen. Investasi juga seperti itu. Kalau mau yang dapat ditarik sewaktu-waktu tanpa resiko, ya reksa dana pasar uang, tetapi hasilnya Cuma 4%. Ada yang 15%-25% di reksa dana saham, tetapi ya tentu harus jangka panjang,” ia memaparkan.

Selain itu, semua jenis dan produk investasi tentu memiliki resiko. “padi saja bisa puso, kan?” ujar Agus. Maka, yang penting, menurutnya, adalah memilih bibit yang unggul, lahan yang baik, dan musim yang pas untuk menanam. Hal itu pula yang ia terapkan dalam strategi investasinya, baik untuk pribadi maupun sebagai manajer investasi. Strategi Samuel dalam mengelola reksa dana sahamnya adalah sektor terbaik di tiap sektor sebagai underlying.

Agus tidak lagi mengoleksi saham untuk tujuan investasi jangka panjang ataupun trading. “kalaupun ada, saham itu adalah yang saya beli dulu dan emmang tidak pernah saya jual sampai sekarang, memang untuk investasi jangka panjang,” ia menegaskan lagi. Ia lebih memilih mengalokasikan sekitas 50% asetnya di reksa dana saham dan reksa dana pasar uang. “ saya bahkan juga membeli produk reksaa dana dari Samuel sendiri selain ada pula reksa dana lainnya. Jika membeli produk sendiri, tentu kita juga akan terpacu agar mengelolanya dengan baik dan optimal,” ujarnya sambil tertawa.

Selain itu, ia pun mengalokasikan 25% dari total portofolionya di properti, dan 10% di aset likuid seperti tabungan, deposito, dan reksa dana pasar uang. Sementara, 15% sisanya ia alokasikan pada bisnisnya di bidang pendidikan – ia mendirikan Rumah Belajar Persada, sekolah Al-Azhar Syifa Budi Jatibening, dan homeschooling (bersama kak Seto) di Jatibening.

Agus memang lebih menyukai investasi yang bersifat value creation  atau memutar dana dan membuka lapangan kerja daripada investasi yang membuat dana mengendap seperti emas. Pada properti pun ia tidak hanya membeli rumah untuk disewakan, tetapi ia menyewakan tanah dan bangunan untuk dijadikan tempat usaha, franchise minimarket misalnya, dan sebagian ia sewakan untuk ATM salah satu bank. “Kalau menyewakan rumah untuk tempat tinggal saja, marginnya lebih kecil,” ujarnya membandingkan.

Selain menyewakan properti, membangun perumahan dalam skala kecil juga menjadi pilihannya. Setidaknya, ia telah tiga kali membangun klaster semacam itu di beberapa daerah di Jawa Barat. Perlu diketahui, orang yang mengembangkan tanah dengan luas 5.000m2 ke atas telah dianggap sebagai pengembang,maka idealnya investor yang ingin bermain di bisnis properti skala kecil ini membatasi luas tanahnya di bawah 5.000m2. namun, Agus juga menekankan bahwa tidak bisa terlalu kecil karena jika terlalu kecil, lahan akan habis hanya untuk membangun fasilitas umum, seperti jalan dan taman. Karena itu, menurutnya, luas lahan  yang ideal adalah 4.750m2 atau tetap mendekati 5.000 m2. “5.000 m2 itu just fine. Jika 2.000 m2 dijadikan fasilitas seperti jalan dan taman, sisanya 3.000 m2 saja yang dapat dibangun menjadi rumah. Dan, jika luas 1 rumah sekitar 150 m2, jadinya sekitar 20 rumah,” ia memberikan gambaran.

Agus memang menyasar pasar untuk harga rumah Rp 500 juta – 1 Miliar. “ Di harga segitu bank pun banyak yang mau memberikan KPR (kredit pemilikan rumah). Kalau di bawah Rp 500 juta, marginnya kecil. Lagi pula, yang dijual tidak hanya rumahnya, tetapi juga konsep dan lokasi yang nyaman,” ungkapnya. Baginya, lokasi memang jadi syarat mutlak. Dekat dengan kota, dekat dengan keramaian, dan dekat dengan jalan itulah syarat lokasi tersebut.

Pendapatan yang diraih dari bisnis properti semacam ini, ia mengungkapkan, dapat mencapai tiga kali lipat dari modal awal, yang mana untuk membangun 1 m2 rumah yang bagus setidaknya dibutuhkan Rp 3-4 juta. Sementara itu, dari investasinya di reksa dana saham dan campuran, setidaknya Agus dapat meraih return 15%-25%. Bisnisnya di bidang pendidikan yang dimulai pada 2010, menurutnya, baru mulai memberikan keuntungan. “saya juga pengurus taman di perumahan tempat saya tinggal,” ia mengungkapkan hobi berkebunnya sambil tertawa.

Melihat investasi Agus, Aidil Akbar Majid, perencana keuangan yang juga pendiri Akbar’s Financial Check  up, menilai sebagai pemain lama di pasar modal, Agus adalah sosok yang telah dapat mengambil keputusan yang tepat dalam berinvestasi. Namun, Aidil mengingatkan, sebagai ayah tiga anak, idealnya dana likuid Agus memenuhi ukuran 12 kali pengeluarannya per bulan. Selain itu, ia pun harus memiliki asuransi yang memadai dan dapat membiayai keluarganya, setidaknya sampai anak bungsunya lulus kuliah. “secara umum sudah efektif, sebagai manajer investasi, beliau tentu tahu bagaimana alokasi dana yang efektif,” Aidil menandaskan.

 

STRATEGI INVESTASI AGUS BASUKI YANUAR
– Melakukan perencanaan keuangan jangka panjang.
– Memasukkan dana investasi ke pos-pos perencanaan keuangan sesuai dengan tujuannya (untuk anak sekolah,untuk biaya haji,dsb.)
– Memilih produk yang bagus dan waktu yang tepat untuk masuk ke pasar.
– Memilih investasi yang bersifat value creation dan bukan mengendapkan dana.

 

STRATEGI BISNIS / INVESTASI DI PROPERTI
– Memilih lokasi yang strategis (dekat dengan kota, dekat dengan keramaian, dan dekat dengan jalan)
-Memberikan konsep yang mengoptimalkan fungsi dan desain yang tidak cepat ketinggalan zaman.
– Menyasar pasar untuk harga rumah dengan kisaran Rp 500 juta – 1 Miliar.

 

 

Sumber : Majalah SWA (21 Februari-6 Maret)

 

images (7)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s