SEKTOR JASA TERPURUK

Standar

Benahi Pertanian, Manufaktur, dan Perbankan

JAKARTA, KOMPAS – Sektor jasa terus terpuruk. Dalam empat tahun terkakhir neraca perdagangan jasa Indonesia terus defisit. Kondisi ini perlu segera ditangani mengingat kebebasan mobilitas tenaga kerja di ASEAN bakal efektif seiring dimulainya pasar tunggal ASEAN tahun 2015.

            Menurut Wakil Menteri perdagangan Bayu Krisnamurthi, Minggu (19/5), di jakarta, akibat transaksi (neraca) perdagangan sektor jasa defisit dalam empat tahun terakhir, ekspor nonmigas Indonesia yang masih tumbuh dan surplus harus menanggung beban defisit jasa dan defisit migas. “Sebagai negara dengan ekonomi yang semakin berkembang sektor jasa idealnya juga semakin berkembang, sektor jasa idealnya juga semakin berkembang dan dibutuhkan oleh pelaku Indonesia,” katanya.

Kementerian Perdagangan, kata Bayu, tengah mendalami struktur perdagangan jasa ini. Dalam 5 tahun terakhir tumbuh antara 8 persen hingga 11 persen. “ Yang lebih penting lagi dan harus diantisipasi adalah Masyarakat Ekonomia ASEAN (MEA) 2015, perdagangan jasa juga tercakup MEA sekaligus terkait juga dengan kebebasan mobilitas tenaga kerja antaranegara ASEAN,” kata Bayu.

Mengacu data Badan Pusat Statistik, pada triwulan pertama 2013, neraca perdagangan jasa defisit 2,3 miliar dollar AS. Ekspor jasa mencapai 5,6 miliar dollar AS, tetapi impornya lebih tinggi 7,9 miliar dollar AS.

Dalam hal ini, yang meliputi impor jasa adalah yang dibayarkan kepada perusahaan atau profesional asing di Indonesia atau di negara lain yang tidak disertai dengan transaksi barang. Misalnya jasa konsultan, dokter, logistik, hotel, dan hiburan.

Tidak berbeda dengan tahun 2013, tahun 2012 neraca perdagangan jasa defisit lebih besar hingga 10,8 miliar dollas AS. Ekspor jasa 23,1 miliar dollar  AS dan impornya 33,9 miliar dollar AS.

Bayu mengatakan Indonesia harus bekerja keras menata sektor jasa. Sampai saat ini di ASEAN baru disepakati delapan kesepakatan pengaturan saling pengakuan (mutual recognition arragements), yaitu untuk jasa rekayasa, perawat, arsitektur, tenaga kepariwisataan, akuntansi, dokter, dan dokter gigi.

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan saat memberi kuliah umum dalam rangka pelepasan alumni Magister dan Doktor Program Manajemen dan Bisnis Institut Pertanian Bogor (IPB), Sabtu (18/5), di jakarta, menegaskan, upaya meningkatkan nilai tambah produk Indonesia harus difokuskan dengan membenahi tiga sektor, yakni pertanian, manufaktur, dan perbankan. Hal itu dibutuhkan agar Indonesia memiliki daya saing yang lebih kuat dalam era perdagangan internasional yang semakin bebas.

Gita menyatakan, di sektor pertanian, Indonesia harus mampu meningkatkan produktivitas dan kemampuan mengolah produk pertanian. “Misalnya, kita harus mampu meningkatkan produktivitas tanaman padi dari 7 ton menjadi 14 ton per hektar, seperti Thailand. Demikian pula dengan tebu, kedelai, dan kelapa sawit,”katanya.

Di bidang manufaktur, menurut Gita, Indonesia perlu memberi perhatian pada pembenahan industri baja. Pasalnya, industri baja memiliki fungsi penting untuk menopang berbagai industri lainnya. “Tingkat konsumsi produk mengandung baja di Indonesia baru 35-40 kilogram per orang tiap tahunnya. Padahal di negara maju, sudah 500 kilogram,” ujarnya.

Di sektor perbankan, pembenahan perlu dilakukan di bidang pembiayaan sehingga dunia usaha bisa mendapatkan pembiyaan dengan mudah dan murah.

(K01/K02/CAS/MAS)

SUMBER :

Koran KOMPAS. 20 MEI 2013

 

images (28)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s